Mitra BLUD
Berbasis Teknologi

Syncore Indonesia Dampingi Kajian Kelayakan BLUD UPT Pasar Induk Among Tani

Foto bersama peserta Focus Group Discussion (FGD) UPT Pasar Induk Among Tani.
(Sumber: Dokumentasi Syncore)

Kota Batu – Syncore Indonesia bersama Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Among Tani menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Balaikota Kota Batu dan observasi lapangan pada 28–29 April 2026 di kawasan Pasar Among Tani. Syncore Indonesia kali ini hadir sebagai mitra pendamping teknis dalam penyusunan kajian kelayakan BLUD untuk mendukung penguatan kelembagaan, peningkatan layanan, serta pengembangan potensi usaha pasar. Pendampingan tersebut menjadi langkah awal untuk menyiapkan tata kelola pasar yang lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pelayanan.

Kegiatan diikuti pejabat Diskumperindag, Kepala UPT Pasar Induk Among Tani, serta tim pendamping dari Syncore Indonesia. Forum berlangsung melalui pemaparan materi, diskusi strategis, dan peninjauan langsung kondisi operasional pasar. Melalui rangkaian kegiatan ini, pihak yang terlibat menghimpun data dan masukan sebagai bahan penyusunan rekomendasi kebijakan pengelolaan pasar ke depan.

Penguatan Kelembagaan dan Persiapan BLUD

Pada sesi diskusi, Sekretaris Diskumperindag, Bapak Antok memaparkan posisi strategis Pasar Among Tani sebagai pusat aktivitas perdagangan yang menaungi beberapa area layanan, seperti pasar induk, pasar sayur, pasar unggas, pasar malam, dan pasar grosir malam. Ia menegaskan perlunya penguatan tata kelola agar kawasan pasar dapat berkembang lebih optimal dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Bapak Tito yang merupakan pakar BLUD dari Syncore Indonesia menjelaskan bahwa status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) bukan merupakan pembentukan lembaga baru, melainkan bentuk fleksibilitas pengelolaan pada UPT. Melalui pola ini, pengelola dapat meningkatkan kualitas layanan dan mempercepat proses bisnis sesuai kebutuhan operasional. “BLUD memberi ruang bagi unit layanan untuk bekerja lebih fleksibel,” ujar beliau.

Beliau menambahkan bahwa penerapan BLUD memerlukan kesiapan dokumen administratif, teknis, dan substantif yang dituangkan dalam kajian kelayakan. Kajian tersebut menjadi dasar untuk menilai potensi, kesiapan, serta arah pengembangan layanan pasar ke depan. Oleh karena itu, kajian kelayakan BLUD menjadi instrumen penting agar proses transformasi berjalan sesuai ketentuan, kebutuhan riil pasar, dan tujuan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Pemetaan Potensi Layanan dan Pendapatan

Pembahasan selanjutnya berfokus pada identifikasi potensi pendapatan dan pengembangan layanan pasar. Sejumlah peluang yang dibahas antara lain optimalisasi layanan parkir, pemanfaatan ruang usaha, pengelolaan promosi dan reklame, pengembangan pusat kuliner, hingga pemanfaatan fasilitas pendukung perdagangan modern.

Selain itu, forum juga menyoroti peluang peningkatan layanan melalui penyediaan sarana penunjang seperti area bongkar muat, fasilitas cold storage, fasilitas transaksi keuangan. Berbagai opsi tersebut akan dianalisis lebih lanjut untuk melihat kelayakan bisnis dan manfaatnya bagi pedagang maupun pengunjung.

Bapak Andry dari Diskumperindag menyampaikan bahwa kajian ini diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret terkait penguatan administrasi, manajemen aset, serta standar operasional prosedur. Menurutnya, tata kelola yang tertata akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing pasar tradisional modern.

Foto kegiatan observasi UPT Pasar Induk Among Tani didampingi oleh pejabat setempat.
(Sumber: Dokumentasi Syncore)

Observasi Lapangan dan Penyusunan Rekomendasi

Setelah FGD, tim melanjutkan kegiatan dengan observasi lapangan di seluruh area Pasar Among Tani. Peninjauan dilakukan untuk melihat pola aktivitas perdagangan, pemanfaatan zona usaha, sirkulasi pengunjung, serta peluang pengembangan kawasan. Tim juga meninjau aktivitas pasar malam dan pasar pagi sebagai bagian dari pemetaan operasional pasar selama 24 jam. 

Hasil observasi akan dikompilasi menjadi bahan analisis dalam penyusunan kajian kelayakan BLUD Pasar Among Tani. Kajian tersebut nantinya memuat rekomendasi strategis terkait kelembagaan, model layanan, skema tarif, pengelolaan aset, dan pengembangan usaha pasar. Selain itu, hasil kajian diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan pasar agar lebih profesional, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Komitmen Syncore Indonesia dalam Penguatan Pasar Daerah

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh gambaran menyeluruh mengenai langkah transformasi pengelolaan pasar menuju sistem yang lebih profesional dan berkelanjutan. Pendampingan teknis yang dilakukan diharapkan mampu membantu pemerintah daerah menyiapkan model pengelolaan pasar yang efektif, efisien, dan berorientasi pelayanan publik.

Syncore Indonesia berkomitmen mendukung penguatan kelembagaan dan tata kelola unit layanan daerah di berbagai wilayah Indonesia. Pendampingan kajian BLUD Pasar Among Tani menjadi bagian dari upaya mendorong pasar daerah agar semakin maju, modern, dan berdaya saing.

BAA

Baca juga : https://blud.co.id/wp/syncore-indonesia-dampingi-laboratorium-lingkungan-hidup-garut-susun-dokumen-administratif-blud/

Jumlah dilihat: 12 kali

Scroll to Top